Saturday, December 16, 2006

Review Engkus Kusnandar

Diambil dari http://zahra004.blogdrive.com/archive/125.html

Crispy n Renyah


siapa bilang kawin itu enak?hayo siapa yang berani bilang begitu dijamin bakalan berubah pikiran untuk jangka waktu yang tidak ditentukan. Loh kok bisa begitu?karena, kumpulan cerpen ini memberikan kejutan-kejutan sederhana yang ringan, humanitis dan terkadang menggelitik.

Jadi untuk kamu-kamu nih para calon pengantin yang akan segera menikah atau pasangan yang lagi dimabuk asmara atau siapapun yang membutuhkan dan percaya pada cinta perlu berpikir ulang lagi tentang pelaksanaan impian indah sepasang anak manusia setelah membaca kumpulan cerpen ini hehe, tapi kamu dijamin nggak bakalan nyesel karena gaya bercerita penulis yang tidak membosankan dan diangkat dari tema couple yang menarik.

Namun sayangnya, keberagaman cerita menjadi kurang tercipta karena sebagian besar point of viewnya diambil dari sudut pandang seorang perempuan, hanya sebagian kecil saja yang menilik pandangan dari kaum adam. Tapi jadi banyak hikmahnya tuh untuk kaum adam karena mereka jadi lebih bisa mengerti kaum hawa.

Kumpulan cerpen siapa bilang kawin itu enak ini memiliki kelebihan dan kekuatan dalam penyampaian cerita dan gaya bertuturnya yang ringan seperti pengobrol, begitu ringannya sehingga bisa dijadikan seperti camilan yang...hmm, crispy.

Jadi untuk kamu yang belum baca kumpulan cerpen ini, perlu mencoba dan merasakan kerenyahannya.

Review Om Tan

Diambil dari http://bukuygkubaca.blogspot.com

Judul : Siapa Bilang Kawin Itu Enak ?
(Kumpulan certia pendek tentang pasangan muda)
Penulis : Tria Barmawi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : September 2006
Tebal : 176 hlm ; 21 cm

Judul kumpulan cerpen ini sangat provokatif. Bagaimana tidak, dalam benak kita pernikahan adalah sesuatu yang indah dan menjadi peristiwa yang sangat dinantikan bagi mereka yang telah memiliki pasangan yang serius, menikah adalah momen paling membahagiakan seperti yang dilihat dalam film-film drama romantis.
Apakah buku ini memang mencoba menjungkirbalikkan pandangan umum tentang indahnya pernikahan ? Tentu saja tidak! Buku ini hanya memandang saat pernikahan dan masa-masa setelahnya dalam sudut pandang yang berbeda. Sesuai dengan sub judulnya, "Kumpulan cerita pendek tentang pasangan muda", semua cerita pendek yang terdapat dalam buku ini menceritakan tentang suka duka pasangan muda dalam menjalani pernikahan mereka.

Buku yang diberi label Metropop oleh penerbitnya ini berisi 17 cerpen yang dipilah berdasarkan tema yang lebih sempit lagi menjadi 5 bagian yang terdiri dari, Dua Jadi Satu, Tabir Mulai Terkuak, Cinta tak lagi cukup, Bumbu Cinta, Bersama Selamanya.
Pada Bagian Dua Jadi Satu, bab ini berisi dua buah cerpen dengan kisah-kisah sebelum pernikahan itu berlangsung. Salah satunya cerpen yang dijadikan judul buku ini : "Siapa Bilang Kawin Itu Enak". Cerpen ini menceritakan bagaimana ribetnya mempersiapkan sebuah pernikahan, mulai dari soal undangan, seragam, katering, dll. Sini, aku kasih tahu ya,! Satu. Camkan. Persiapan pernikahan adalah mimpi buruk. Dari beberapa bulan, bahkan mungkin satu tahun sebelum Hari-H, kalian bakalan dibuat sibuk segala macam hal. (hal 22). Tidak itu saja, ‘siksaan-siksaan’ yang harus dilalui sang pengantin di hari pernikahannya pun terungkap secara menarik dan lucu. Pada akhirnya alih-alih hari-H yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan, malah menjadi puncak dari sebuah mimpi buruk.

Di bagian kedua hingga bagian kelima, tema-tema cerpen bergeser pada masalah-masalah sepele yang kerap timbul bagi para pasangan muda yang belum lama menikah. Berbagai cerita yang menggelitik dan inspiratif terdapat didalamnya, antara lain keributan di kamar tidur seperti yang terungkap dalam cerpen "Di Kamar Tidur" yang mengungkap bagaimana kebiasaan suami dan istri menjelang dan pada saat tidur dapat memicu sebuah konflik seperti posisi tidur, suhu AC, menonton TV, lampu kamar, dll.
Tidak hanya masalah kebiasaan dalam tidur, persoalan yang menyangkut selera lidahpun terungkap dalam buku ini. Dalam cerpen "Ketika Lidah Jadi Masalah" dikisahkan pasangan berbeda bangsa yang bermukim di Malaysia dimana Raj seorang Malaysia keturunan India beristrikan seorang Indonesia bernama Nina. Dalam hal makanan Raj hanya bisa mengkonsumsi makanan kari khas India kesukaannya. Selama tinggal di Malaysia hal ini tak menjadi masalah karena Nina tetap setia memasakkan kari untuk Raj. Persoalan timbul ketika mereka mengunjungi keluarga Nina di Indonesia dan bumbu instan kari yang dibeli di Malaysia tertinggal. Cerpen ini menarik karena penulis memasukkan dialog-dialog khas melayu yang bagi kita terdengar lucu, misalnya komentar Raj terhadap sayur sop : "Tapi I tak suka apa itu..masakan Indonesia. Nanti you buat I makan macam masakan you di sini..sayur without spices itu…",…"Sedep macam mane? Sayur dak de warna, tak de rasa…mana boleh cakap sedap lah!" (hal 56)
Tidak hanya itu, buku ini mengungkap pula bagaimana ketika cinta yang menggebu-gebu di awal masa pacaran menjadi hambar oleh rutinitas seperti yang terdapat dalam cerpen "Telah Terbiasa". Apalagi ketika kehadiran seorang bayi membuat seolah cinta yang tadinya hanya untuk masing-masing pasangan kini harus berbagi dengan hadirnya buah cinta mereka (cerpen Jealousy).

Secara keseluruhan cerpen-cerpen yang terdapat dalam buku ini berisi cerita-cerita yang menghibur yang menceritakan bagaimana para pasangan muda harus beradaptasi dan berkompromi dengan pasangan hidupnya. Tidak ada cerita dengan konflik-konflik yang berat, tema-tema yang diangkat semuanya ringan-ringan saja, menggelitik, sederhana dan realistis dan sangat dekat dengan keseharian kita sehingga ketika kita membacanya kita seolah membaca kisah diri kita sendiri dan menertawakan diri sendiri.
Yang mungkin agak disayangkan adalah sudut pandang seluruh kisah dalam buku ini hanya diambil dari sisi pasangan muda nya saja. Andai beberapa cerpen disajikan dengan sudut pandang yang berbeda, misalnya dari sudut pandang orang tua atau mertua masing-masing pasangan, tentunya buku ini akan lebih ‘berwarna’

Selain itu walau tampaknya penulis mencoba menyuguhkan kisah-kisah yang realistis, ada dua buah cerpen yang tampaknya sedikit mengada-ngada. Pada cerpen "One Night in Valley" rupanya penulis terjebak dalam kisah-kisah romantis ala Hollywod dimana si pria memberikan cincin pada istrinya sambil mengungkapkan cintanya di sebuah restoran dengan disaksikan oleh para pengunjung restoran. Adegan ini mengingatkan kita pada adegan di film-film drama romantis. Kenyatannya untuk budaya timur rasanya hal seperti ini agak janggal untuk dilakukan.
Lalu pada cerpen "Telah Terbiasa", dikisahkan untuk mengatasi kejenuhan akibat rutinitas kehidupan perkawinan mereka, si istri menganjurkan suaminya untuk meminta tugas ke luar kota selama beberapa waktu. Rasanya hal ini tak lumrah dilakukan oleh seorang istri yang pada kisah ini masih sangat mencintai suaminya, mana ada sih istri yang mau ditinggal oleh suaminya dengan alasan jenuh pada pernikahan mereka ?
Namun terlepas dari hal-hal di atas ,secara keseluruhan kumpulan cerpen dalam buku ini tampaknya mampu memotret kehidupan pasangan muda dalam keseharian mereka. Semua cerita-ceritanya menghibur namun bukan sekedar membuat pembacanya tertawa, namun buku ini memberikan gambaran realistis bahwa kehidupan perkawinan tidak selamanya indah seperti dalam kisah-kisah dongeng. Pernikahan bukan hanya sekedar bukti cinta kita pada pasangannya melainkan pertautan dua hati beserta kebiasaan-kebiasaan masing-masing pribadi yang jika tidak dikomunikasikan dan diselaraskan akan memicu konflik dalam kehidupan perkawinan.

Sebagai tambahan, bagi pembaca yang telah menikah, beberapa cerpen dalam buku ini bisa dikatakan merupakan cerminan dirinya sehingga mereka umumnya akan berkata bahwa buku ini "Gue Banget!!!!"
@h_tanzil

Review Astra

Diambil dari http://bukubacaku.blogspot.com/

Judul : Siapa Bilang Kawin itu Enak
Penulis : Tria Barmawi
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, September 2006
Tebal : 176 hlm; 21 cm



Sebagai seorang lajang, tak pernah terbayangkan dalam benak saya bagaimana rasanya kehidupan berumah tangga. Paling-paling hanya melihat kehidupan pernikahan orang tua saya yang rasanya kok ajeg banget. Apa karena usia pernikahan mereka yang sudah puluhan tahun ya? Entahlah. Tapi kehidupan pernikahan menjadi sangat dinamis di tangan Tria Barmawi.

Banyak sekali pernak-pernik dunia pernikahan yang terasa lucu, unik, mellow, bahkan gokil yang terangkum dalam buku ini. Yang menarik, Tria bahkan mengelompokkan ke -17 cerita pendek-nya dalam sub-judul berbeda, seolah-olah menggambarkan fase-fase dalam dunia pernikahan itu sendiri. Simak misalnya sub-judul Dua Jadi Satu yang membawahi judul ”Lamarlah Aku Seperti Mereka” dan ”Siapa Bilang Kawin itu Enak?” Sesuai sub judulnya, cerpen ini mengisahkan langkah paling awal dari hidup berumah tangga: kawin alias nikah! Dari sub judulnya: Tabir Mulai Terkuak, Cinta Tak Lagi Cukup, Bumbu Cinta dan Bersama Selamanya, sudah bisa diduga fase pernikahan apa yang tengah dialami oleh setiap pasangan dalam kisah ini.

Dikisahkan dengan cara yang ringan dan jauh dari kesan porno (maklum deh, namanya juga lagi ngomongin soal pasangan muda kan, hehehe), semua cerita dalam buku ini lumayan bisa membuat saya berpikir tentang lika-liku kehidupan berumah tangga. Mulai dari kebiasaan tidur (Di Kamar Tidur; hal. 33), bedanya sifat pria dan wanita (Mars & Venus; hal. 43) hingga soal selera makan (Ketika Lidah Jadi Masalah; hal. 52). Ternyata lumayan seru dan asyik juga. Simak cerpen yang menjadi judul utama kumcer ini. Meski begitu banyak siksaan (sampe enam) – padahal mahligainya baru saja dimasuki – namun tokh tokoh gue dalam cerita ini tetap berkata bahwa kawin itu enak: ”Nah, jadi kata siapa kawin itu enak? Ya kataku dong...(hal. 30)

Selain lucu, cerita di dalamnya rata-rata mengandung suatu pesan tertentu. Seperti cerpen ’Takut’ (hal. 75) yang meski renyah dan ringan, namun mengusung hal yang lumayan serius: poligami dan perceraian. Namun diantara semuanya, cerita yang paling saya suka adalah “The Most Sensitive Person in the World” (hal. 64). Mungkin karena sifat saya yang mirip dengan karakter dalam kisah itu. Rasanya gue banget saat membaca kisah tersebut. Sementara “One Night in the Valley” (hal. 91) agak corny menurut saya. Too perfect saja rasanya.

Saya tadinya tidak ’ngeh’ kalau Tria tengah menceritakan pasangan yang berbeda-beda. Sadarnya baru saat memasuki cerita ke-3. Saya pikir tadinya malah Tria bukan tengah menulis kumcer, soalnya ceritanya seolah bersambung. Saya sampai harus kembali melihat cover dan setelahnya baru manggut-manggut (”Ooo, memang kumcer tho ternyata”). Yaaa...selain membuat salah persepsi tadi, kumcer ini lumayan membuat saya penasaran untuk segera merasakan dinamisnya kisah-kisah perkawinan dalam buku ini.